Jika dipikir-pikir saya itu memang istri yang aneh. Berkali-kali suami bilang jika saya adalah istri yang aneh dan berbeda dengan istri teman-temannya. Pagi-pagi buta disaat suami dan anak masih tertidur saya sudah menyiapkan sarapan tanpa berkeluh kesah. Mereka tinggal bangun, sholat dan sarapan. Disaat istri-istri lain suka teriak dan ngoceh dengan aktifitas sehari-hari, saya tidak merasakan sama sekali keruwetan dalam menjalankan tugas sebagai istri, ibu dan menantu. Terkadang suami sering kaget, mendengar gagasan saya yang ada-ada saja tentang orang tua suami. “ Pa, kita ajak jalan-jalan yuk!” “Kita buatkan makanan kesukaan ibu yuk!” “Kita tidur tempat ibu yuk!” Semua ide tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan suami, tiba-tiba jadi, tiba-tiba siap. Suami yang bekerja sebagai ASN sering pulang sore hanya termangu-mangu melihat keanehan saya. Sampai usia pernikahan masuk usia 13 tahun, belum pernah sekalipun anggota keluarga, keluar rumah tanpa sarapan ataupun mengeluh dengan kegiatan suami.
Pernah suatu siang, saya mendapatkan pesan WA dari kantor
suami untuk menghadiri kegiatan dharma wanita. Kebetulan momentum waktu itu
adalah perayaan hari ibu. Anehnya saya begitu bersemangat mempersiapkan
kegiatan itu. Mulai dari sepatu hitam, tas hitam, beserta seragam orange
kesukaan saya pun dipersiapkan sedemikian rupa. Disaat para istri ASN enggan
ikut kegiatan DW saya justru penuh semangat. Untungnya suami sabar menghadapi
keanehan saya. Beliau begitu memahami
bahwa saya bangga menjadi istri ASN apalagi mengenakan baju seragam yang
menurutku, membuatku paling cantik dijagat raya. Suami pun bangga ketika saya
menggandeng tangannya yang kekar lalu duduk disampingnya sembari bercengkrama. Lagi-lagi suami begitu sabar dengan keanehan
saya.
Sampai saat ini pun saya masih merasa bahwa tidak semua orang seberuntung saya, menjadi
istri ASN dan memiliki kesempatan belajar bersama ibu-ibu hebat diluar sana.
Bersama mereka, saya banyak belajar tentang bagaimana menjadi wanita cakap yang
bisa mendidik anak, mengurusi keluarga dan sekaligus mandiri. Karena mengikuti
kegiatan dharma wanita, saya jadi memahami sebuah organisasi yang didalamnya
terdapat kumpulan istri-istri Aparatur Sipil Negara ini. Dharma wanita
berdirinya sejak 22 tahun yang silam. Konon katanya tujuan utama dari
berdirinya dharma wanita adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya anggota
keluarga ASN sehingga dapat mencapai kesejahteraan Nasional. Dan lebih menarik
lagi saat itu saya menjadi tahu bahwa tugas pokok dharma wanita adalah membina
anggota, memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan,
meningkatkan kepedulian social dan kekeluargaan. Ada hal yang paling menarik
menurut saya adalah tentang pembinaan mental dan spiritual anggota agar menjadi
manusia yang bertakwa kepada Tuhan dengan menekankan kepribadian serta berbudi
pekerti luhur. Keren bukan! Makanya saya rela dikatakan istri aneh oleh suami.
Dan manfaatnya betul-betul telah saya rasakan. Saya bisa merasakan besarnya
manfaat menjaga Kesehatan mental supaya saya dapat menjalan tugas sebagai istri
sekaligus sebagai istri dengan hati yang ringan dan bahagia.
Menurut saya salah satu peran dharma wanita adalah dalam
pemberdayaan perempuan di era digital supaya dapat mendukung terwujudnya
ketahanan keluarga yang berkualitas dan kritis terhadap isu-isu local. Apalagi
dimasa pandemi seperti sekarang ini, banyak isu-isu yang berkembang
dimasyarakat yang tentu saja itu tidak mendidik. Sehingga peran keluarga sangat
penting supaya tetap berada pada koridor yang benar. Melalui kegiatan dharma
wanita persatuan Lubuk linggau saya mendapatkan pengalaman menarik dan
bermakna. Terutama dalam Kesehatan mental dan ketahanan keluarga. Semoga dharma
wanita persatuan kota Lubuk linggau terus memberikan edukasi kepada istri-istri
ASN kota Lubuklinggau agar menjadi salah faktor pendukung dalam kemajuan dan
kemakmuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung