
Sebagai petugas pendidikan yang kami rasakan
hampir sama dengan petugas kesehatan. Namun tak senyaman petugas kesehatan,
yang setiap bertugas mengobati pasien selalu dipanggil dan dijemput langsung
oleh keluarga pasien, sehingga merasa aman. Namun sebaliknya yang terjadi
terhadap guru, guru seringkali mengalami kejahatan didalam perjalanan. Seperti
ada guru SD yang dibunuh sebelum dirampok, kepala sekolah dirampok dirumahnya,
guru diambil motornya, guru gadis di intip oleh salah satu warga dan lain
sebagainya. Itu yang terjadi di luar lingkungan sekolah sesuai fakta. Ada lagi
yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Seharusnya yang dirasakan oleh guru
tidak demikian. Rasa aman, tenang dan nyaman dalam bertugas itu yang dibutuhkan
oleh seorang pendidik.
Pertanyaannnya adalah Apakah di dalam sekolah
juga demikian? Ini adalah pengalaman yang saya alami sendiri. Menjadi pembina
osis merupakan tanggungjawab yang menantang bagi saya. Berbaur dengan
anak-anak, melatih kedisiplinan, persahabatan, cinta, motivasi, dan banyak hal
lain yang membuat kepuasan tersendiri bagi saya. Bagiku itu menarik sekali,
hilang rasa capek, hilang rasa letih, meskipun pulang kerumah harus memberikan
latihan khusus kepramukaan pada anak-anak SD.
Pada suatu pagi, suasana hening dan tenang di
sekolah. Suasana hening Menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran sedang
dilakukan. Jam di dinding koridor sekolah menunjukkan Pukul 09.00 WIB. terlihat
guru olahraga sedang mengajarkan siswa cara melompat jauh. Sesuai janji hari
itu, Rabu, saya akan mendisiplinkan baju, celana, rambut dan atribut-atribut
yang tidak dibutuhkan dalam belajar. Itu
sudah ada dalam perjanjian awal tahun saat penerimaan siswa baru dan sudah
ditandatangani orang tua siswa. Proses yang kami sebut “RAZIA” sudah 90 persen
dilaksanakan. 80 persen yang bermasalah adalah pada bagian rambut dan celana
pensil. Tibalah saya pada seorang siswa yang rambutnya tidak normal. Pendek
pada pinggir namun panjang pada tengah kepala. Saya, selaku pembina osis tentu
saja tidak sepakat dengan potongan rambut itu, alasannya selain konsisten dengan aturan juga tak ingin anak
yang lain meniru, jika tidak saya tindaklanjuti. Maka dengan sedikit guyonan
saya memotong rambut anak tersebut, sambil secara tidak langsung memberitahu
anak yang lain bahwa semua siswa diperlakukan sama, meskipun anak guru, anak
kepala sekolah ataupun anak Staf TU. Karena kebetulan yang saya potong adalah
ternyata anak seorang staf TU.
Selang beberapa menit setelah selesai proses
“razia” orang tua dari siswa yang saya potong yang juga kebetulan anak seorang
staf TU kami, memprotes dan marah-marah. Ini untuk kesekian kalinya hal ini
terjadi, yaitu protes dari orang yang sama yang merupakan teman kami sendiri.
Staf TU protes, mengomel hingga tak puas mendatangi saya. Saya saat itu merasa
sudah melakukan SOP yang benar, jadi ikut emosi dan marah. Hingga saling
jontok-jontokan.
Hingga saat ini, masih terngiang , dan
mengganjal dihati, bukan karena dendam, namun, merasa betapa lemahnya
perlindungan terhadap guru, meskipun dari teman sendiri. Dari kekerasan fisik,
kekerasan verbal, pelecehan seksual, kekerasan hak untuk mengeksplore diri, hak
untuk mendisiplinkan dan kenyamanan serta keamanan tidak sama sekali guru
dapatkan. Apalagi jika sudah sertifikasi cair. Guru akan diincar dan cari
keberadaannya. Karena uangnya banyak pada saat itu.
Saya sebenarnya ingin guru merasakan keamanan,
kenyamanan, dan ketengan dalam menjalankan tugas anak bangsa. Sehingga bisa
maksimal dalam menjalankan tugas
mencerdaskan anak bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung