Sabtu, 07 Agustus 2021

Biarkan Kami Menjemput Amal dengan Tenang



Percakapan sederhana terjadi di meja makan bersama seorang adik bungsu saya yang bekerja di Rumah sakit Sobirin tepatnya di UGD.

Adik : “Yuk, (panggilan kakak di daerah kami) tadi ada guru minta visum karena dipukul oleh muridnya”

Saya : “Oya?” Saya pura-pura terkejut padahal di dalam hati meringis dan sedih sudah 5 kali dalam satu bulan mendengar berita penganiayaan terhadap guru.

Adik : “Makanya ayuk jangan macam-macam sama murid, udah ngajar aja cukup, nanti kena aniaya murid lagi” 

Saya : “iyalah....” saya diam namun tidak setuju dengan obrolan dengan nada sedikit peringatan dari adik saya.

Menjadi guru adalah bagian dari pilihan hidup. Dari Yogyakarta saya bekerja pada sebuah sekolah di desa terpencil di trans Desa Tugu Sempurna Kec. Muara Kelingi Kab. Musi Rawas propinsi Sumatera selatan. Jarak dari rumah tempat tinggal ke sekolah sejauh kurang lebih 85 Km dengan jarak 3 jam jika tidak hujan. Letak geografis yang jauh dari kecamatan, medannya tanah berlumpur, tanah merah, melewati kebun karet dan kebun sawit membuat guru yang jauh menyiapkan fisik dan mental yang cukup untuk siap “bertempur” . Jika hujan, maka akan sangat licin dan bahkan banjir. Seringkali kami merasakan kehujanan dijalan dan tidur dirumah warga karena tidak bisa kembali maupun melanjutkan perjalanan pulang. 

Sebagai petugas pendidikan yang kami rasakan hampir sama dengan petugas kesehatan. Namun tak senyaman petugas kesehatan, yang setiap bertugas mengobati pasien selalu dipanggil dan dijemput langsung oleh keluarga pasien, sehingga merasa aman. Namun sebaliknya yang terjadi terhadap guru, guru seringkali mengalami kejahatan didalam perjalanan. Seperti ada guru SD yang dibunuh sebelum dirampok, kepala sekolah dirampok dirumahnya, guru diambil motornya, guru gadis di intip oleh salah satu warga dan lain sebagainya. Itu yang terjadi di luar lingkungan sekolah sesuai fakta. Ada lagi yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Seharusnya yang dirasakan oleh guru tidak demikian. Rasa aman, tenang dan nyaman dalam bertugas itu yang dibutuhkan oleh seorang pendidik.

Pertanyaannnya adalah Apakah di dalam sekolah juga demikian? Ini adalah pengalaman yang saya alami sendiri. Menjadi pembina osis merupakan tanggungjawab yang menantang bagi saya. Berbaur dengan anak-anak, melatih kedisiplinan, persahabatan, cinta, motivasi, dan banyak hal lain yang membuat kepuasan tersendiri bagi saya. Bagiku itu menarik sekali, hilang rasa capek, hilang rasa letih, meskipun pulang kerumah harus memberikan latihan khusus kepramukaan pada anak-anak SD.

Pada suatu pagi, suasana hening dan tenang di sekolah. Suasana hening Menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran sedang dilakukan. Jam di dinding koridor sekolah menunjukkan Pukul 09.00 WIB. terlihat guru olahraga sedang mengajarkan siswa cara melompat jauh. Sesuai janji hari itu, Rabu, saya akan mendisiplinkan baju, celana, rambut dan atribut-atribut yang tidak dibutuhkan dalam belajar.  Itu sudah ada dalam perjanjian awal tahun saat penerimaan siswa baru dan sudah ditandatangani orang tua siswa. Proses yang kami sebut “RAZIA” sudah 90 persen dilaksanakan. 80 persen yang bermasalah adalah pada bagian rambut dan celana pensil. Tibalah saya pada seorang siswa yang rambutnya tidak normal. Pendek pada pinggir namun panjang pada tengah kepala. Saya, selaku pembina osis tentu saja tidak sepakat dengan potongan rambut itu, alasannya selain  konsisten dengan aturan juga tak ingin anak yang lain meniru, jika tidak saya tindaklanjuti. Maka dengan sedikit guyonan saya memotong rambut anak tersebut, sambil secara tidak langsung memberitahu anak yang lain bahwa semua siswa diperlakukan sama, meskipun anak guru, anak kepala sekolah ataupun anak Staf TU. Karena kebetulan yang saya potong adalah ternyata anak seorang staf TU.

Selang beberapa menit setelah selesai proses “razia” orang tua dari siswa yang saya potong yang juga kebetulan anak seorang staf TU kami, memprotes dan marah-marah. Ini untuk kesekian kalinya hal ini terjadi, yaitu protes dari orang yang sama yang merupakan teman kami sendiri. Staf TU protes, mengomel hingga tak puas mendatangi saya. Saya saat itu merasa sudah melakukan SOP yang benar, jadi ikut emosi dan marah. Hingga saling jontok-jontokan.

Hal ini sudah terjadi pada 2 tahun yang lalu. Hingga saat ini, saya masing mengenangnya.perselisihan itu sempat terjadi hingga 1 tahun tidak bertegur sapa. Yang saya rasakan adalah, mengapa teman saya ga paham jika saya menyayangi anaknya, bukan berati saya akan membuatnya malu, bodoh atau apapun. Bahkan saya sangat peduli dengan anaknya. Sebagai contoh, dan pamong yang baik untuk mengutamakan kedisiplinan. Bahkan karena hal itu saya sudah merasakan kekerasan verbal.

Hingga saat ini, masih terngiang , dan mengganjal dihati, bukan karena dendam, namun, merasa betapa lemahnya perlindungan terhadap guru, meskipun dari teman sendiri. Dari kekerasan fisik, kekerasan verbal, pelecehan seksual, kekerasan hak untuk mengeksplore diri, hak untuk mendisiplinkan dan kenyamanan serta keamanan tidak sama sekali guru dapatkan. Apalagi jika sudah sertifikasi cair. Guru akan diincar dan cari keberadaannya. Karena uangnya banyak pada saat itu.

Saya sebenarnya ingin guru merasakan keamanan, kenyamanan, dan ketenangan dalam menjalankan tugas anak bangsa. Sehingga bisa maksimal dalam menjalankan tugas  mencerdaskan anak bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung

Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional

Assalamulaikum teman-teman semua calon guru penggerak dimana saja. Kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman mengikuti program calon gu...